Di ujung barat Indonesia ada sebuah pulau kecil yang masih relatif sepi. Namanya Pulau Rubiah. Terletak di dekat Pulau Weh, Kota Sabang, Aceh. Banyak orang datang ke Sabang, tapi belum tentu sempat ke sini.
Pulau ini tidak berpenghuni. Luasnya tidak terlalu besar. Tapi keindahan bawah lautnya luar biasa. Airnya jernih sekali. Terumbu karang dan ikan berwarna-warni langsung terlihat dari permukaan.
Saya selalu merekomendasikan Pulau Rubiah untuk yang suka snorkeling. Dari Pantai Iboih, hanya butuh 10 sampai 15 menit naik perahu. Biaya penyeberangan relatif murah. Alat snorkeling juga mudah disewa di sekitar sana.
Nama pulau ini berasal dari Siti Rubiah. Ia adalah istri seorang ulama bernama Teungku Iboih atau Tengku Ibrahim. Siti Rubiah berasal dari Singkil. Menurut cerita lokal, ia memilih tinggal di pulau ini hingga akhir hayat. Makamnya masih ada di sana.
Selain sejarah tokoh agama, pulau ini punya jejak kolonial. Pada masa Belanda sekitar tahun 1920, Pulau Rubiah dijadikan tempat karantina haji. Jemaah yang berangkat atau pulang dari Tanah Suci harus karantina di sini. Sisa bangunan tuanya masih bisa dilihat, meski sudah rusak.
Menurut saya, kombinasi alam dan sejarah membuat pulau ini unik. Bukan hanya tempat berenang dan foto. Tapi juga tempat belajar tentang masa lalu Aceh. Wisata edukasi dan alam bisa dinikmati bersamaan.
Keindahan utama tetap di bawah laut. Terumbu karang yang relatif terjaga. Ikan badut atau Nemo banyak bersembunyi di anemon. Visibilitas air sering sangat bagus, terutama di musim kemarau.
Para pemandu lokal biasanya bilang waktu terbaik adalah pagi hari. Laut lebih tenang. Ikan lebih aktif. Dan belum terlalu ramai pengunjung.
Saya pribadi merasa Pulau Rubiah masih punya suasana tenang. Tidak sepadat destinasi wisata bahari yang sudah sangat populer. Itu kelebihannya. Pengunjung bisa menikmati laut tanpa terlalu banyak gangguan.
Pemerintah Kota Sabang terus mencoba menjaga dan mengembangkan kawasan ini. Ada upaya rehabilitasi terumbu karang pasca tsunami. Juga atraksi tambahan seperti mencari lumba-lumba di sekitar perairan.
Akses menuju Sabang sendiri sudah cukup mudah. Dari Banda Aceh naik ferry sekitar satu jam. Lalu lanjut ke Iboih. Dari situ tinggal naik perahu kecil.
Bagi yang ingin lebih dalam, diving juga bisa dilakukan. Tapi snorkeling saja sudah sangat memuaskan. Air jernih membuat pengalaman terasa seperti masuk akuarium alami.
Menurut ahli pariwisata setempat, potensi Pulau Rubiah masih besar. Asalkan dikelola dengan prinsip berkelanjutan. Jangan sampai ramai berlebih lalu merusak ekosistem.
Saya rasa pulau ini pantas disebut destinasi tersembunyi. Bukan karena sulit dijangkau. Tapi karena masih belum terlalu banyak orang yang memasukkannya ke itinerary utama. Padahal kualitasnya setara dengan spot snorkeling bagus di tempat lain.
Kalau kamu ke Sabang, sisakan waktu untuk Rubiah. Nikmati pasir putihnya. Selami keindahan bawah lautnya. Dan luangkan waktu sejenak di makam Siti Rubiah. Pengalaman yang lengkap.
Kesimpulannya, Pulau Rubiah adalah perpaduan alam bahari yang indah dan sejarah yang bermakna. Destinasi yang masih relatif tenang di Aceh. Layak dikunjungi bagi yang mencari keaslian dan keindahan laut.






Leave a Reply